Sabtu, 16 Juli 2011

HEARTSTRINGS (YOU'VE FALLeN FOR ME )




Korsel lagi2 ngeluarin drama terbaru mereka. kali ini pemainnya pasti agan2 + aganwati pada tahu, Park Shin Hye ma Jung Yong Hwa (kedua pemain sama2 main di You'r beatiful) yang pernah ditayangin ma Indosian dulu. drama ini berjumlah 16 episode, mulai tayang di negaranya lo nggak salah 29 juni 2011
Details
Title: 넌 내게 반했어/ You've Fallen for Me/You're Into Me/Heartstrings
Genre: School, romance
Pilot Episode: 29th June 2011
Episodes: 16
Broadcast network: MBC
Broadcast period: 29th June 2011
Air time: Wednesday/Thrusday drama at 9.55pm
Production Companies: JS Pictures
Screenwriter: Lee Myung-Sook



buat pemain2 nya
Park Shin Hye as Lee Gyu Won ; Jung Yong Hwa (vicalist CN.blue) as Lee Shin
Kang Min Hyuk (drummer CN.blue) as Yeo Joon (Lee Shin's friend)
Kim Hee Jung as Jung Yoon Su
SongChang Ui as Kim Suk Hyun
So Yi-hyeon
WooRi
Lee Hyun Jin as Hyun Ki Young
Shin Goo as Lee Kyu Won grand pa
Sun Woo Jae Duk
Lee Yil Hwa
Kim Sun Kyung
Jung Seo-Won


Jung Yong Hwa ama Kang Min Hyuk merupakan personel dari band korea CN.blue (satu managemen ma band FT Island). di drama ini mereka tetep jadi vocalist ma drummer hhhe..


nah sampe saat ini drama ne tanyang masi nyampe ep 6 lo ga salah,, ntar lo sempet tak tulisin sinopsisnya dah hhhe =.=

Jumat, 01 April 2011

kupang untuk obat awet muda


Dengan bantuan kupang laut, para ilmuwan di Korea Selatan telah mengembangkan gel yang dapat disuntikkan yang dapat berguna untuk mnemenuhi kerutan.
Hidrogel Asam Hyaluronic (HA) seringkali digunakan sebagai materi biocompatibleuntuk pengiriman obat dan rekayasa jaringan, namun mereka mempunyai kekuatan mekanis yang lemah dan melakukan degradasi in vivo yang cepat karena mereka menyerap air dan melakukan degradasi enzimatik. Dengan menambahkan  suatu asam amino acid yang diketemukan di kupang, lebih stabil dan hidrogel adhesif telah dibuat oleh Tae Gwan Park dan para koleganya dari Korea Advanced Institute of Science and Technology, Daejeon.
Suatu asam amino yang biasa ada di kupang membuat gel menempel pada jaringan
Park menggunakan asam amino, 3,4-dihydroxyphenylalanine, yang banyak terdapat di lapisan adhesif kupang yang memudahkannya untuk menempel dengan kuat pada berbagai macam permukaan organik dan anorganik. Asam amino membuat gel menempel pada jaringan, jelas Park, yang membuat ini berguna bagi rekayasa jaringan, pengiriman obat dan bahkan untuk memenuhi kerutan. Cairan hidrogel disuntikkan kedalam tubuh dimana sesegera mungkin berbalik ke gel selama perubahan suhu. ‘Formasi gel di tubuh dapat bertindak sebagai pemberhentian sementara bagi pelepasan obat yang mendukung, formasi jaringan atau dapat berperan sebagai lem jaringan,’ kata Park.
Zhiyuan Zhong dari Universitas Soochow, Suzhou, Cina, yang meneliti hidrogel yang dapat disuntikkan dan polimer biodegradable, terkesan dengan temuan Park. ‘Hidrogel tersebut secara elegan memiliki tingkat kemampuan suntikan kombinasi, kestabilan in vivo, kemampuan biodegradability, properti mekanis yang baik, sensitifitas panasdan properti jaringan adhesif yang bagus.’ Dia menambahkan bahwa ‘sesuatu yang dapat disuntikan tersebut, namun hidrogel yang sangat rumit merupakan dasar bagi materi yang dapat diterima dengan baik dan mudah untuk disiapkan.’
Park mengatakan timnya sekarang berencan untuk menggunakan hidrogel adhesif yang dapat disuntikkan ini untuk aplikasi klinis dengan obat terapi dalam bentuk kapsul atau menempelkan sel – sel didalam mereka dan juga bekerja pada pengujian in vivo.
kalo ane sih biasanya makan neh kupang dalam bentuk kayak gene.. hhhe...
 


permen karet yang tidak lengket


Pernah mengalami baju kesayangan Anda tertempel permen karet yang dibuang sembarangan? Atau mungkin permukaan sepatu Anda tertempel permen karet yang bertebaran di jalan-jalan? Cuma satu kata untuk mengungkapkan pengalaman tersebut, Menyebalkan !!!
Kali ini kamu tidak perlu khawatir lagi dengan pengalaman-pengalaman buruk tersebut karena sebuah tim penelitian yang dipimpin oleh Terence Cosgrove dari the University of Bristol, UK berhasil membuat produk permen karet baru yang mudah untuk dilepaskan dari rekatannya dibandingkan dengan permen karet pada umumnya sementara tetap menjaga citra rasa permen karet. Permen karet ini telah dipasarkan di Amerika dan berhasil merebut hati para konsumen disana.
Pada tahun 2007, Terence Cosgrove and koleganya bekerja sama dengan perusahaan Revolymer pertama kali mengumumkan bahwa mereka telah berhasil menciptakan sebuah produk baru permen karet yang dapat dilepaskan dengan mudahnya dari hampir berbagai permukaan dan juga mudah berdispersi dalam air. Sejak itu, tim ini bergelut untuk menciptakan formulasi permen karet yang mampu dikomersialkan dan mampu untuk berkompetisi dengan produk-produk rival permen karet tradisional.
“Penelitian saya dimulai lebih dari 30 tahun yang lalu ketika saya tertarik dengan bagaimana polimer berinteraksi dengan permukaan sehingga bisa memecahkan misteri dari masalah dari penelitian ini” kata Cosgrove. “Tetapi motivasi saya sesungguhnya untuk menciptakan produk ini adalah ketika saya melihat begitu banyaknya permen karet yang berserakan di sepanjan jalan Inggris dan Amerika – permen karet itu ada diseluruh penjuru!!”

Permen karet tradisional menggunakan poly(styrene-co-butadiene) atau poly(ethylene-co-vinylacetate) sebagai bahan dasar karet. Namun, materi-materi memiliki sifat merekat ke permukaan dengan cepat dan sangat sulit untuk dilepaskan bahkan dengan deterjen sekalipun. Permen karet baru, yang dinamakan Rev7, berhasil mengatasi permasalahan ini karena permen ini merupakan amphiphilik kopolimer sisir yang terbuat dari bahan polisoprene sebagai kerangka utama dan poly(ethylene oxide) (PEO) sebagai cabangnya.
‘amphiphilik kopolimer graft ini tidak hanya akan mengurangi kekuatan adisi kepada permukaan, tetapi juga akan mengedrasi menjadi komponen polimer yang lebih mudah larut dalam air sehingga akan lebih mudah dibersihkan,’ komentar Stefan Bon, seorang kimiawan polimer di University of Warwick, UK. ‘Untuk mengatasi hal ini ada dua pemecahaan yang cermat, yaitu membuat permen karet yang tidak mudah lengket dan mudah dibersihkan sehingga lebih ramah lingkungan,’ tambahnya.
‘Banyak surfaktan yang membuat ikatan kompleks dengan PEO seperti sodium dodecyl sulfate, komponen yang umum digunakan dalam sabun dan deterjen, dan memudahkan deterjen lembut untuk melepas permen karet yang kita ciptakan dari berbagai permukaan termasuk pakaian dan karpet,’ ujar Cosgrove. Sifat hidrophilik dari PEO yang memungkinkan permen karet untuk stabil dan menyerap air merupakan salah satu kunci dari degradasi permen karet. ‘Permen karet ini akan terurai di dalam air menjadi partikel-partikel kecil dalam enam bulan dan oleh karenanya akan kembali kepada lingkungannya,’ tambah Cosgrove.



Kamis, 31 Maret 2011

cerita melinda dee alias inong melinda

Nama Melinda mendadak terkenal. Foto-foto perempuan berusia 47 tahun tersebut beredar di dunia maya. Mendadak, semua orang pun ingin tahu kehidupan miliarder istri model iklan Andika Gumilang tersebut.

Tak heran, nama Melinda muncul karena ia menjadi tersangka kasus pencurian uang nasabah prioritas di Citibank. Kasus tersebut, entah sengaja entah tidak, awalnya ditutup-tutupi oleh Polri. Pun Citibank lebih banyak tutup mulut soal Melinda yang mereka sebut "eks-karyawan" Citibank itu.

"Nama aslinya Inong Melinda, di kantornya menggunakan nama Melinda," tutur Kadiv Humas Polri Irjen Anton Bachrul Alam, buka suara soal kasus ini, Kamis (31/3). Anton menambahkan, Melinda tidak menyangkal semua tuduhan yang dialamatkan padanya.

Bahkan, sebelum berkasus, Linda, panggilan akrab Melinda, juga sudah menjadi buah bibir. Pasalnya, penampilan Linda yang usianya hampir paruh baya itu memang menarik. Pegawai Citibank yang tak kenal dengannya pun minimal pasti tahu siapa dia. Belum lagi nasabah Citibank. Linda memang sengaja ditempatkan untuk menangani nasabah prioritas karena kepiawaiannya bicara dan menjaga hubungan dengan nasabah.

"Dia itu operasi semua, dirombak wajahnya, jadi sebetulnya nggak cantik," kata Anton mengomentari kehebohan masyarakat mengenai penampilan Linda sebagaimana foto-fotonya yang beredar di dunia maya.

Lepas dari penampilannya, Linda memang terkenal cukup lincah dan pandai berhubungan dengan klien. Linda sudah 20 tahun bekerja di Citibank, tapi baru tiga tahun terakhir ini ia mulai beraksi, membobol dana nasabah. Setidaknya dari tiga perusahaan yang jadi nasabah Citibank, Linda sudah mengantongi Rp17 miliar.

Polri menduga masih banyak lagi uang nasabah yang dibobol Linda. Sayangnya, perusahaan-perusahaan tersebut disinyalir takut melapor lantaran tak mau merusak hubungan baik dengan bank internasional asal New York tersebut.

Menurut Polri, dalam aksinya Linda meminta teller Citibank bernama Dwi untuk membantunya melakukan pencatatan palsu beberapa transfer uang. Nilainya antara Rp1 miliar hingga Rp2 miliar. Catatan tersebut merupakan manipulasi transfer uang dari rekening nasabah ke rekening milik beberapa perusahaan milik Linda di dalam dan di luar Citibank.

Tak tahu yang dilakukannya kriminal, Dwi yang bekerja di Citibank atas bantuan Linda, tak menolak mengerjakannya. Pencatatan tersebut secara administrasi bank memang tak bermasalah. Oleh karenanya, kejahatan Linda tak tercium.

Dwi kemudian juga ditangkap Polri dan sempat masuk rutan Bareskrim Mabes Polri atas dugaan keterlibatannya. Tetapi ia kemudian dilepas kembali karena tak ikut menikmati uang yang dicuri Linda. Status Dwi masih tersangka. Ia hanya dikenakan wajib lapor setiap dua minggu sekali.

Namun, banyak pihak memandang kekayaan Linda wajar-wajar saja. Pasalnya, Linda memang mempunyai banyak usaha, selain bekerja sebagai manajer di Citibank Cabang Landmark, kemudian pindah ke cabang Pondok Indah. Namun belum dapat dikonfirmasi bergerak di bidang apa saja perusahaan-perusahaan tersebut.

Linda pun, menurut Polri, piawai menyembunyikan kejahatannya. Harta kekayaannya banyak yang disamarkan dengan atas nama orang lain.

Rekening perusahaannya, misalnya, tercatat atas nama orang lain. Mobil-mobil mewah yang dimilikinya pun demikian. Salah satunya, Hummer H-3 warna putih bernomor polisi B 18 DIK yang disita polisi sebagai barang bukti pencucian uang, dicatat atas nama Dika. Selain itu, Linda diketahui masih memiliki Mercedes Benz S300 dan sebuah Ferrari yang kerap dibawa Dika ke Sentul untuk bergaul bersama komunitas Ferrari lainnya.

Dika adalah Andhika Gumilang, suami Melinda yang usianya jauh lebih muda. Model iklan dan artis itu disebutkan baru berusia sekitar 22 tahun.

"Dia punya Hummer dipegang (atas nama) suaminya, Mercy dan Ferrari dipegang anaknya," ujar Anton.

Sampai kini Polri belum dapat dengan jelas memetakan harta Linda yang lain. Polri tengah meminta bantuan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan memantau aliran dana keluar masuk rekening perusahaan Linda.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Media Indonesia, Linda ditangkap di kamar mewahnya di sebuah apartemen di kawasan elite SCBD, Semanggi. Ia juga diketahui pernah tinggal di Oakwood, Kuningan. Selain itu, Linda masih punya beberapa rumah di Jakarta, termasuk di Tebet.

Menyembunyikan hubungan istimewanya dengan model iklan pun Linda jago. Tak tercium infotainment, Linda menikah dengan Dika yang umurnya terpaut 25 tahun. Padahal, pada pertengahan 2007, Dika masih dikabarkan infotainment bermasalah dengan pacarnya kala itu, Trindah Herlina.

Pasangan Linda dan Dika tinggal bersama kedua anak Linda dari pernikahan pertamanya. Anak pertama Linda, lulusan universitas luar negeri, berusia tak terpaut jauh dengan Dika, sementara anak keduanya masih duduk di bangku sekolah swasta di Jakarta.

Menghindari kemungkinan kejahatan perbankan serupa, Polri mengimbau semua pihak untuk tidak mudah percaya pada kedekatan hubungan pribadi ketika menyangkut urusan finansial.

"Kepada masyarakat, kalau berkaitan dengan bank harus cek dan ricek karena petugas itu belum tentu yang sebenarnya," papar Anton.

"Harus sesuai dengan prosedur, harus baca aturan sistem. Jangan terlalu percaya dengan pihak bank yang sudah dikenal baik. Itu belum tentu benar, harus hati-hati, tahu-tahu ditandatangan kosong."(MI/DSY)



neh suami keduanya>> andhika G.

sumber>> Metrotvnews.com

Kamis, 10 Maret 2011

analisis bahan buangan yang perlu O2

Analisis bahan buangan yang memerlukan oksigen

A.    Hasil pengamatan
Titik
Jarak
(m)
warna
bau
DO
(ppm)
COD
(ppm)
BOD
(ppm)
Kadar CO2
(ppm)
Stabilitas
Relative
(%)
A
A : 0

++
menyengat
10,285
260
2,89
32,12
21
B
AB : 46
+++
menyengat
9,43
940
8,69
27,72
50
C
BC : 30
++++
menyengat
9,43
140
7,53
29,48
37
Keterangan:
++ : hijau keruh
+++: hijau lebih keruh
++++ : coklat keruh

Perhitungan
1.      Uji kandungan oksigen terlarut
Percobaan ini dilakukan 3 kali.
Kadar oksigen terlarut =  x 8
V1 = Volume Na2S2O3 yang digunakan untuk titrasi
N  = Konsentrasi larutan Na2S2O3
V2 = Volume sampel air yang diperiksa
Sampel
Titrasi I (ml)
Titrasi II (ml)
Titrasi III (ml)
V rata-rata (ml)
A
0,3
0,4
0,4
0,36
B
0,3
0,1
0,6
0,33
C
0,4
0,2
0,4
0,33

*      Sampel A
N = 0,1 N ; V1 = 0,36 ml ; V2 = 30 ml
Kadar oksigen terlarut =  x 8
= 10,285 mg/L
= 10,285 ppm

*      Sampel B
N = 0,1 N ; V1 = 0,33 ml ; V2 = 30 ml
Kadar oksigen terlarut =  x 8
= 9,43 mg/L
= 9,43 ppm

*      Sampel C:
N = 0,1 N ; V1 = 0,33 ml ; V2 = 30 ml
Kadar oksigen terlarut =  x 8
= 9,43 mg/L
= 9,43 ppm
2.      Uji stabilitas relative
Sampel
Jumlah hari hilangnya warna biru
Kemantapan relative (%)
A
1
21
B
1
21
C
1
21

3.      Uji COD
COD(mg/l) = x |(A-B)| x N x 8
A = Volume Ferro Amonium Sulfat untuk titrasi blanko
B = Volume Ferro Amonium Sulfat untuk titrasi sampel
N = Normalitas Ferro Amonium Sulfat
8 = Berat ekivalen oksigen

*      Sampel A:
A = 24,9 ml ; B = 26,2 ml ; N = 0,25 N ; Volume sampel = 10 ml
COD =  x |( 24,9  – 26,2 )| x 0,25  x 8
= 260 mg/L = 260  ppm

*      Sampel B
A = 24,9 ml ; B = 29,6 ; N = 0,25 N ; Volume sampel = 10 ml
COD =  x |( 24,9  – 29,6 )| x 0,25  x 8
= 940  mg/L
=940  ppm
*      Sampel C
A = 24,9 ml ;B = 24,2 ; N = 0,25 N ; Volume sampel = 10 ml
COD =  x |( 24,9 – 24,2 )| x 0,25  x 8
= 140  mg/L
=140  ppm

4.      Uji kandungan CO2 terlarut

Kadar CO2 =  x Vml NaOH x NNaOH x 44
Sampel
Titrasi I (ml)
Titrasi II (ml)
Titrasi III (ml)
Vrata-rata (ml)
A
0,7
0,8
0,7
0,73
B
0,7
0,6
0,6
0,63
C
0,7
0,7
0,6
0,67

*      Sampel A
Vml sampel air       = 100 ml
Vml NaOH    = 0,73 ml
NNaOH             = 0,1 N
Kadar CO2 =  x 0,73 ml x 0,1 N x 44
= 32,12 mg/L
= 32,12 ppm
*      Sampel B:
Vml sampel air       = 100 ml ; Vml NaOH = 0,63 ml ; NNaOH           = 0,1 N
Kadar CO2 =  x 0,63 ml x 0,1 N x 44
= 27,72 mg/L
= 27,72 ppm
*      Sampel C:
Vml sampel air       = 100 ml ; Vml NaOH = 0,67 ml ; NNaOH           = 0,1 N
Kadar CO2 =  x 0,67 ml x 0,1 N x 44
= 29,48 mg/L
= 29,48 ppm

5.      Uji BOD
BOD = selisih kadar oksigen dari kedua botol (mg/L)

Kadar oksigen terlarut =  x 8

a.      Botol yang langsung ditentukan kadar oksigennya setelah di-aerasi
Sampel
Titrasi I
(ml)
Titrasi II
(ml)
Titrasi III
(ml)
Vrata-rata
(ml)
A1
A2
1,5
1,8
1,6
1,7
1,8
1,9
1,6
1,8
B1
B2
2,0
1,7
1,9
1,7
2,4
1,7
2,1
1,7
C1
C2
1,6
1,7
1,8
1,7
1,9
1,7
1,7
1,7

·         Sampel A.1
N = 0,1 N ; V1 = 1,6 ml ; V2 = 140 ml
Kadar oksigen terlarut =  x 8
= 9,27 mg/L
= 9,27 ppm
·         Sampel A.2
N = 0,1 N ; V1 = 1,8 ml ;V2 = 140 ml
Kadar oksigen terlarut =  x 8
= 10,43 mg/L
= 10,43 ppm
·         Sampel B.1
N = 0,1 N ; V1 = 2,1 ml ; V2 = 140 ml
Kadar oksigen terlarut =  x 8
= 12,17 mg/L
=12,17 ppm
·         Sampel B.2
N = 0,1 N ; V1 = 1,7 ml ; V2 = 140 ml
Kadar oksigen terlarut =  x 8
= 9,85 mg/L
= 9,85 ppm
·         Sampel C.1
N = 0,1 N ; V1 = 1,7 ml ; V2 = 140 ml
Kadar oksigen terlarut =  x 8
= 9,85 mg/L
=9,85 ppm
·         Sampel C.2
N = 0,1 N ; V1 = 1,7 ml ; V2 = 140 ml
Kadar oksigen terlarut =  x 8
= 9,85 mg/L
=9,85 ppm
b.      Botol yang disimpan di tempat gelap selama 5 hari
Sampel
Titrasi I
(ml)
Titrasi II
(ml)
Titrasi III
(ml)
Vrata-rata
(ml)
A3
A4
1,2
1,3
1,2
1,3
1,2
1,0
1,2
1,2
B3
B4
0,3
0,4
0,3
0,4
0,6
0,4
0,4
0,4
C3
C4
0,4
0,4
0,4
0,4
0,4
0,4
0,4
0,4

·         Sampel A.3
N = 0,1 N ; V1 = 1,2 ml ; V2 = 140 ml
Kadar oksigen terlarut =  x 8
= 6,96 mg/L
=6,96 ppm
·         Sampel A.4
N = 0,1 N ; V1 = 1,2 ml ; V2 = 140 ml
Kadar oksigen terlarut =  x 8
= 6,96 mg/L
= 6,96 ppm
·         Sampel B.3
N = 0,1 N ; V1 = 0,4 ml ; V2 = 140 ml
Kadar oksigen terlarut =  x 8
= 2,32 mg/L
= 2,32 ppm
·         Sampel B.4
N = 0,1 N ; V1 = 0,4 ml ; V2 = 140 ml
Kadar oksigen terlarut =  x 8
= 2,32 mg/L
= 2,32 ppm
·         Sampel C.3
N = 0,1 N ; V1 = 0,4 ml ; V2 = 140 ml
Kadar oksigen terlarut =  x 8
= 2,32 mg/L
= 2,32 ppm
·         Sampel C.4
N = 0,1 N ; V1 = 0,4 ml ; V2 = 140 ml
Kadar oksigen terlarut =  x 8
= 2,32 mg/L
= 2,32 ppm

Sampel
DO (ppm)
Rata-rata DO (ppm)
BOD (ppm)

A

(tidak disimpan di tempat gelap)
A1 = 9,27
A2 = 10,43
9,85
9,85 6,96 = 2,89
(disimpan dalam  tempat gelap)
A3 = 6,96
A4 = 6,96
6,96

B
(tidak disimpan dalam tempat gelap)
B1 = 12,17
B2 = 9,85
11,01
11,01 2,32 = 8,69
(disimpan dalam  tempat gelap)
B3 = 2,32
B4 = 2,32
2,32

C
(tidak disimpan dalam tempat gelap)
C1 = 9,85
C2 = 9,85
9,85
9,85 2,32 =7,53
(disimpan dalam tempat gelap)
C3 = 2,32
C4 = 2,32
2,32


B.     Jawaban  Pertanyaan

1.      Kondisi Air
Kondisi masing-masing air dapat dilihat dari harga DO. Oksigen terlarut (dissolved oxygen, disingkat DO) atau sering juga disebut dengan kebutuhan oksigen (Oxygen demand) merupakan salah satu parameter penting dalam analisis kualitas air. Nilai DO yang biasanya diukur dalam bentuk konsentrasi ini menunjukan jumlah oksigen (O2) yang tersedia dalam suatu badan air. Semakin besar nilai DO pada air, mengindikasikan air tersebut memiliki kualitas yang bagus. Sebaliknya jika nilai DO rendah, dapat diketahui bahwa air tersebut telah tercemar. Pengukuran DO juga bertujuan melihat sejauh mana badan air mampu menampung biota air seperti ikan dan mikroorganisme.
Berdasarkan tabel pengamatan yang menyatakan bahwa harga DO untuk titik A adalah 10,285 ppm, titik B dan C sebesar 9,43 ppm. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kondisi air pada titik A lebij baik dibanding B dan C.
2.      Bahan Organic Dalam Air
Penentuan bahan organic dalam sampel dapat diketahui dari uji COD. Chemical Oxygen Demand (COD) atau Kebutuhan Oksigen Kimia (KOK) yaitu jumlah oksigen (mg O2) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organis yang ada dalam sampel air dimana pengoksidasi K2Cr2O7 digunakan sebagai sumber oksigen (oxidizing agent). Prinsip dari uji ini adalah Senyawa organik dalam air dioksidasi oleh kalium dikromat dalam suasana asam pada temperatur 150o C. kelebihan kalium dikromat dititrasi oleh larutan ferro amonium sulfat (FAS) dengan indikator ferroin.
Angka yang ditunjukkan COD merupakan ukuran bagi pencemaran air dari zat-zat organik yang secara alamiah dapat mengoksidasi melalui proses mikrobiologis dan dapat juga mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut dalam air. Berdasarkan table pengamatan, harga COD pada titik A sebesar 260 ppm, titik B sebesar 940 ppm dan titik C sebesar 140 ppm, sehingga dapat diambil kesimpulan bahan organic yang terkandung dalam sampel pada titik B > titik A > titik C.
3.      Tingkat Keamanan Air
Untuk membandingkan tingkat keamanan sampel air dapat diambil salah satu indicator yakni BOD. Biological Oxygen Demand (BOD) adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri untuk menguraikan (mengoksidasikan) hampir semua zat organis yang terlarut dan sebagian zat organis yang tersuspensi dalam air. Pemeriksaan BOD diperlukan untuk menentukan beban pencemaran akibat air buangan penduduk atau industry. Apabila sesuatu badan air dicemari oleh zat organik, bakteri dapat menghabiskan oksigen terlarut dalam air selama proses oksidasi tersebut yang bisa mengakibatkan kematian ikan. Keadaan menjadi anaerobik dan dapat menimbulkan bau busuk pada air. Air yang memiliki harga BOD mendekati 1 dapat dikatakan air tersebut murni atau aman. Berdasarkan harga BOD pada table, titik A memiliki harga BOD sebesar 2,89 ppm, titik B sebesar 8,69 ppm dan titik C sebesar 7,53 ppm, sehingga dapat diambil kesimpulan tingkat keamanan air pada titik A > titik B > titik C.
4.      Tingkat Pencemaran Badan Air
Komponen\ Organik\ +\ O_2\ +\ nutrien \xrightarrow {mikroorganisme} CO_2\ +\ H_2O\ +\ Sell\ baru\ +\ nutrien\ +\ energiDi dalam air, oksigen memainkan peranan dalam menguraikan komponen-komponen kimia menjadi komponen yang lebih sederhana. Oksigen memiliki kemampuan untuk beroksida dengan zat pencemar seperti komponen organik sehingga zat pencemar tersebut tidak membahayakan. Oksigen juga diperlukan oleh mikroorganisme, baik yang bersifat aerob serta anaerob, dalam proses metabolisme. Dengan adanya oksigen dalam air, mikroorganisme semakin giat dalam menguraikan kandungan dalam air. Reaksi yang terjadi dalam penguraian tersebut adalah:
Jika reaksi penguraian komponen kimia dalam air terus terjadi, maka kadar oksigen pun akan menurun. Pada klimaksnya, oksigen yang tersedia tidak cukup untuk menguraikan komponen kimia tersebut. Keadaan yang demikian merupakan pencemaran berat pada air.
Dapat disimpulkan bahwa bila Semakin besar nilai DO pada air, mengindikasikan air tersebut memiliki kualitas yang bagus. Sebaliknya jika nilai DO rendah, dapat diketahui bahwa air tersebut telah tercemar. Sehingga tingkat pencemaran pada air adalah titik C > titik B > titik A, atau dapat dikatakan bahwa air yang paling aman adalah pada titik A.
5.      Ratio COD / BOD
Hasil ratio COD / BOD pada masing-masing titik adalah:
ü  Titik A sebesar 92,86
ü  Titik B sebesar 108,17
ü  Titok C sebesar 18,59
Berdasarkan perhitungan ratio COD/BOD diperoleh data bahwa titik B mempunyai ratio perbandingan yang paling besar yaitu sebesar 108,17 disusul oleh titik A sebesar 92,86 dan kemudian titik C sebesar 18,59. Besarnya ratio yang diperoleh menunjukkan kandungan senyawa organik yang ada dalam perairan tersebut. Titik B mengandung senyawa organik paling banyak dibanding titik A dan C. Semakin banyak senyawa organik yang terkandung dalam suatu perairan, maka kandungan oksigen akan semakin banyak karena zat organik yang akan dioksidasi semakin banyak.
6.      Persamaan reaksi
a.      Oksidasi bahan organic (karbohidrat) oleh bakteri aerob
CxHyOz  + O2 → nCO2 +  m H2O
b.      Oksidasi bahan organic (mengandung N) oleh bakteri aerob
CxHyOz N + O2 → CO2 + H2O + NH3
c.       Oksidasi bahan organic dengan K2Cr2O7
CxHyOz + Cr2O72-→ CO2 + H2O + Cr3+
Cr2O72- (kelebihan) + Fe2+ → Fe3+ + 2Cr3+ + H2O